Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 1 of 8
next >

VII.43

Kajian Kebutuhan Ruang Bermain Anak di Lingkungan Hunian

The Examining Children Play Ground Necessities in Residential

Environtment

Handajani Asriningpuri

1

, Agnes Yusnia

2

1,3

Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Indonesia (ITI)

1,3

Jl Raya Puspiptek. Muncul-Serpong, Tangerang Selatan.

:

hasriningpuri@yahoo.com

Abstrak -

Pamulang, Kelurahan Pondok Benda RW 017. Tapi Pembangunannya tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana

yang disyaratkan untuk lingkungan perumahan, misalnya ruang bermain anak

2

. Pembangunan kesejahteraan masyarakat

disektor sosial khususnya tentang kebutuhan sarana fisik ruang bermain untuk anak

2

(0 – 15 tahun) adalah fokus kajian

dari sudut ilmu arsitektur, karena umumnya penghuni RT 017 Villa Pamulang adalah keluarga muda (usia pernikahan.2

-15 tahun). Tujuannya yaitu membuktikan bahwa ketiadaan sarana fisik ruang bermain anak

2

berpengaruh pada perilaku

dimasa depan. Permasalahnya perencanaan pembangunan tidak sesuai peraturan; pembangunan infrastruktur tidak

lengkap; - ruang terbuka tidak sesuai syarat; - kesadaran kebutuhan anak

2

kurang dipertimbangkan; - Kurangnya

kesadaran pemerintah tentang manfaat ruang terbuka khususnya ruang bermain anak. Digunakan metoda diskriptif

kualitatif kasuistik . Hasil kajian adalah pilihan solusi yang paling mendekati pemecahan masalah, sebagai usulan

pedoman pembangunan direkomendasikan pada pemerintah Kota Tangerang Selatan.

:

Abstract

Construction does not completed by proper infrastructure that required of housing settlement, such as children

playground. The study focus is to rise the community prosperity construction in social aspect from architectural point of

view in physical children (0 – 15

th

Pamulang are young family (between 2

nd

-15

th

years married). The objectives are to proof that children playground

inexistences’ as infrastructure will be bring the impact in children behavior. The problems are Construction Planning do

not appropriate with regulation; Playground and open spaces are not appropriate; the unconsciousness government of

the impact of open spaces especially for children playground. The methodology applied are descriptive-qualitative-

casuistic. The result are the best solution appropriate with the problem that will be recommended to the government

South Tangerang.

Keyword :

I.

PENDAHULUAN

Kota

Tangerang

Selatan

saat

ini

mengalami

Pembangunan permukiman sangat pesat , antara lain

kompleks perumahan Villa Pamulang Kelurahan

Pondok Benda. Namun pembangunannya tidak

dilengkapi dengan sarana dan prasarana fasilitas umum

dan fasilitas sosial yang disyaratkan untuk lingkungan

perumahan, misalnya ruang bermain anak-anak.

Adanya UU no. 23 Tahun 2002 pasal 11 tentang

Perlindungan anak yang menyatakan bahwa ”Setiap

anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan

waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya

bermain, berrekreasi, berkreasi sesuai dengan

minat,bakat

dan

tingkat

kecerdasannya

demi

pengembangan diri”. Maka keprihatinan tentang kedua

hal tersebut menjadi latar belakang penelitian.

Penelitian ini mengkaji kebutuhan ruang bermain

anak di lingkungan hunian dengan pertimbangan

terhadap Kebijakan Pemerintah Pusat tentang Pedoman

Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) yang diterbitkan

oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlin-

dungan Anak serta pertimbangan terhadap ketidak

tersediaan lahan yang seharusnya dibutuhkan untuk

sarana dan prasarana bagi anak-anak dilingkungan

hunian seperti di kompleks perumahan di RT 017 Villa

Pamulang Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan

Pamulang, Kota Tangerang Selatan merujuk pada teori

tentang psikologi anak dan teori tentang ruang dari

sudut pandang disiplin arsitektur dengan menerapkan

metoda diskriptif kasusistik.

Pembuktian bahwa ketiadaan sarana ruang

bermain anak

2

dilingkungan hunian berpengaruh pada

kehidupan anak

2

dan pastinya akan berpengaruh pula

pada gaya hidup generasi yang akan datang adalah

tujuan utama dari kajian ini melalui permasalahan

antara

lain:

a)

Ketidaksesuaian

perencanaan

pembangunan

dengan

peraturan;

b)

Kondisi

pengolahan dan pengelolaan dimensi lahan; c)

Utilitaas dan sanitasi tidak sesuai persyaratan; d)

Kurangnya kesadaran pihak pengembang perumahan

dalam hal mempertimbangkan kebutuhan sarana

bermain anak

2

; e) Kurangnya kesadaran pemerintah