Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 1 of 8
next >

VII.59

Standar Pembebanan Pada Jembatan

Menurut SNI 1725 2016

The Loading Standards on Bridges

According to SNI 1725 2016

Y. Djoko Setiyarto

1

1

Program Studi Teknik Sipil Universitas Komputer Indonesia

Email : y.djoko.setiyarto@email.unikom.ac.id

Abstrak –

perencana jembatan harus mulai menyesuaikan perubahan yang terjadi pada standar tersebut. Tulisan ini memaparkan

tentang pembaharuan yang terjadi pada SNI 1725 2016, seperti jenis-jenis beban dan kombinasi pembebanan.

Berdasarkan hasil penelitian tentang analisa perhitungan pembebanan untuk jembatan bentang 45 m yang menggunakan

SNI 1725 2016 (standar baru), diketahui terjadi perbedaan beban angin dan beban gempa sebesar 30% dan 43%

terhadap RSNI T-02 2005 (standar lama).

:

Abstract

the changes that occur to the standard. This paper describes updates on SNI 1725 2016, such as types of load and

combination of loading. Based on the result of the research on load calculation analysis for the 45 m span bridge using

SNI 1725 2016 (new standard), there is a difference of wind load and earthquake load by 30% and 43% to RSNI T-02

2005 (old standard).

Keywords:

I.

PENDAHULUAN

Perkembangan infrastruktur dalam dunia teknik

sipil harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan

standarisasi nasional (SNI) yang terkini. Terutama SNI

yang efektif dan efesien untuk dapat digunakan semua

code

beredar untuk menggantikan peraturan standarisasi

sebelumnya, salah satunya yaitu SNI Pembebanan

untuk Jembatan (SNI 1725 2016). SNI ini ditetapkan

pada bulan Juni tahun 2016 untuk menggantikan atau

merevisi pendahulunya yaitu SNI 03 1725 1989

dengan judul Pembebanan Jembatan Jalan Raya, serta

RSNI T-02 2005 berjudul Standar Pembebanan untuk

Jembatan.

Sejak dikeluarkannya Surat Edaran dari Direktorat

Jenderal Bina Marga dengan No. 05/SE/Db/2017 [1]

pada Bulan Juli 2017 yang lalu, maka seluruh kegiatan

perencanaan atau desain jembatan wajib menggunakan

standar pembebanan sesuai SNI 1725 2016. Tantangan

engineer

dapat mengaplikasi standar pembebanan jembatan

terbaru ini secara benar dan tepat, mengingat kegiatan

utama dalam desain jembatan selalu diawali dengan

penentuan beban yang bekerja pada jembatan.

Tulisan berikut ini bertujuan memaparkan sejauh

mana perbedaan pembebanan yang terjadi pada SNI

1725 2016 dan RSNI T-02 2005. Penelitian akan

meninjau tiap jenis beban yang digunakan dan

bagaimana penerapan kombinasi pembebanan yang

akan dilakukan. Belum ditemukannya penelitian serupa

tentang SNI 1725 2016, maka tulisan ini akan

mengambil

tinjauan

pustaka

beberapa

kasus

perencanaan jembatan.

II.

PERKEMBANGAN STANDARISASI

PEMBEBANAN UNTUK JEMBATAN

Direktorat Jenderal Bina Marga telah menetapkan

Peraturan Muatan untuk Jembatan Jalan Raya No.

12/1970 pada tahun 1970. Kemudian peraturan ini

diangkat menjadi Tata Cara Perencanaan Pembebanan

Jembatan Jalan Raya SNI 03-1725-1989. Selanjutnya

Bridge

Management System

modifikasi dalam kaidah-kaidah perencanaan keadaan

batas layan (KBL) dan keadaan batas ultimit (KBU).

Austroads

menghasilkan Peraturan “Beban Jembatan”, Peraturan

Perencanaan Jembatan, Bagian 2, BMS-1992.

Standar “Pembebanan untuk Jembatan 1989” dikaji

ulang untuk mengakomodasi pertumbuhan dan

perilaku lalu lintas kendaraan berat sehingga muncul

RSNI T02-2005 [2] yaitu standar pembebanan untuk

jembatan. Beberapa penyesuaian yang terjadi saat itu

adalah:

a. Faktor beban ultimit dari BMS 1992 direduksi

dari nilai 2 menjadi 1.8 untuk beban hidup

b. Kapasitas beban hidup keadaan batas ultimit

(KBU) dipertahankan sama dengan standara

sebelumnya

sehingga

faktor

beban

1.8

menimbulkan kenaikan kapasitas beban hidup